Morfologi dasar laut di daerah penelitian agak curam dan bergelombang, terdapat pada kedalaman laut antara 50
sampai 2000 meter. Pembentukan morfologi dasar laut ini sangat dipengaruhi oleh adanya gejala sesar-sesar aktif. Dari
interpretasi runtunan seismik terlihat jelas adanya struktur- struktur geologi berupa sesar dan pelipatan. Adanya bentuk
struktur bunga (flower structure) menunjukkan bahwa gejala tektonik aktif dari sesar Palu- Koro, Kolaka, Matano,
Lawanopo masih berlangsung sampai sekarang. Keberadaan sesar-sesar aktif ini perlu diwaspadai karena dapat
menimbulkan gempa diseluruh Teluk Bone.
Teluk Bone secara administratif terletak di
Propinsi Sulawesi Selatan (di sebelah barat dan
utara) dan Propinsi Sulawesi Tenggara (di sebelah
timur). Secara geografis daerah penelitian terletak
pada koordinat koordinat 2o
00’ 00” LS – 4o
00’ 00”
LS dan 120o 00’ 00” BT – 121o 30’ 00” BT.
Pada Tahun Anggaran 2010 Puslitbang
Geologi Kelautan Bandung melakukan pemetaan
geologi dan geofisika dengan menggunakan kapal
riset Geomarin I di Teluk Bone. Metode pemetaan
yang diterapkan adalah seismik pantul dangkal,
geomagnet, pemeruman, dan pengambilan contoh
sedimen. Dari rekaman penampang seismik pantul
dangkal dapat dilihat dengan jelas adanya struktur
struktur geologi yang berkembang di perairan ini.
Kondisi geologi bawah permukaan dasar laut di
daerah ini cukup menarik untuk didiskusikan. Oleh
karena itu dengan memaparkan hasil penelitian
geologi dan geosifika yang telah dilakukan,
diharapkan dapat menambah wawasan tentang
ilmu kebumian di tempat ini.
Sungai besar yang bermuara ke Teluk Bone
adalah Sungai Cenrana. Sungai Cenrana
merupakan pemasok sedimen yang cukup tinggi
karena beberapa sungai besar dan kecil bermuara
ke sungai ini. Sedimen permukaan dasar laut Teluk
Bone terdiri dari lanau, lanau pasiran, lumpur
pasiran sedikit kerikilan, dan pasir lanauan.
Kedalaman laut Teluk Bone mencapai 2000 meter
ke arah lepas pantai (ke selatan) dengan bentuk
morfologi yang cukup terjal (Sutisna dkk, 2010).
Teluk Bone diapit oleh daratan yang disebut
sebagai lengan tenggara dan lengan selatan
Sulawesi. Berdasarkan pembagian mendala
geologi, lengan tenggara ditempati sebagian Lajur
Malihan Sulawesi Tengah, Lajur Ofiolit Sulawesi
Timur, Kepingan Benua sedangkan Lengan selatan ditempati oleh Lajur Vulkanik Sulawesi Barat
(Surono, 2010).
Disekitar Teluk Bone yaitu di lengan tenggara
maupun lengan selatan didapati beberapa struktur
geologi yang berkembang. Di lengan tenggara ada
sesar Kolaka dan sesar Lawanopo yang menerus
ke sesar Matano, di lengan selatan ada sesar
Walanae. Sesar Palu Koro yang terdapat di utara
Teluk Bone, menerus ke Teluk Bone. Sesar PaluKoro ini berhubungan dengan sistem sesar Matano
dan sesar Lawanopo (Simandjuntak dkk, 1993).
Hasil pengukuran geomagnet di Teluk Bone
(Rachmat dan Delyuzar, 2012) menunjukkan
bahwa nilai suseptibilitas yang rendah yaitu 0,1564
sampai 0,1572 emu menempati bagian utara dan
diperkirakan merupakan batuan sedimen Neogen.
Bagian barat Teluk Bone nilai suseptibilitasnya
antara 0,1588 sampai 0,1596 emu yang merupakan
batuan malihan yang diperkirakan merupakan
batuan dasar di Teluk Bone.
Kedalaman laut di daerah ini sangat bervariasi
dengan kedalaman mencapai 2000 meter ke arah
lepas pantai (ke selatan). Kedalaman yang dangkal
terdapat di sepanjang pantai barat, utara, dan timur
dari 50 meter sampai 200 meter. Morfologi dasar
laut agak bergelombang dan curam ke bagian
selatan. Umumnya morfologi tersebut
mencerminkan cekungan yang semakin dalam ke
arah selatan. Ketidak teraturan dari pola kontur
morfologi dasar laut menunjukkan bahwa adanya
gejala tektonik berperan dalam pembentukkannya.
No comments:
Post a Comment